Kupang — Selasa (28/10/2025), Dalam semangat memperkuat riset dan inovasi berbasis potensi lokal, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Kupang menunjukkan dukungan aktif terhadap kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Hilirisasi Produk Jagung Bose Diperkaya Zat Besi (Jabinkasabe)” yang digelar oleh Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang).
Kegiatan yang berlangsung di kampus Politani Kupang ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tim pakar Universitas Hasanuddin Makassar yang dipimpin oleh Aminuddin Syam, perwakilan BBPOM di Kupang, perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga dosen dan peneliti lokal. FGD ini merupakan tindak lanjut dari riset dosen Politani yang berhasil mengembangkan produk pangan inovatif berbasis jagung bose, makanan khas NTT, yang kini diperkaya dengan zat besi sebagai upaya membantu menurunkan kasus anemia di masyarakat.
Hadir sebagai narasumber utama, Yoseph Nahak Klau, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya pada BBPOM di Kupang. Yoseph menegaskan pentingnya hilirisasi riset seperti ini tidak hanya penting bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah melalui inovasi pangan lokal.
“Balai Besar POM di Kupang sangat mendukung upaya hilirisasi produk hasil riset seperti Jabinkasabe. Inisiatif ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi NTT dalam mendorong pengembangan bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah melalui konsep One Village One Product (OVOP),” ujar Yoseph.
Menurut Yoseph, proses hilirisasi menuntut kolaborasi lintas sektor — antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pengawasan — agar produk hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar sampai ke masyarakat dengan mutu dan keamanan yang terjamin.
Tim pakar Universitas Hasanuddin turut memperkaya diskusi dengan perspektif multidisiplin yang mencakup bidang kesehatan masyarakat, farmasi, pemasaran, dan hukum. “Pendekatan multidisiplin sangat penting agar inovasi pangan seperti Jabinkasabe dapat diterima pasar, memiliki izin edar yang sah, dan berkontribusi nyata terhadap penurunan kasus anemia di NTT,” kata Aminuddin Syam, Ketua Tim Pakar Unhas dalam sesi diskusi.
Produk Jagung Bose Diperkaya Zat Besi (Jabinkasabe) merupakan hasil riset prioritas yang dikembangkan dalam program Dorongan Teknologi Tahun 2025–2028. Produk ini tidak hanya mempertahankan cita rasa khas jagung bose, tetapi juga dirancang untuk menjawab tantangan gizi masyarakat NTT, terutama di kalangan ibu hamil dan anak-anak yang rentan anemia.
Dalam kesempatan tersebut, Yoseph juga menyampaikan komitmen BBPOM di Kupang berkomitmen untuk mendampingi proses pengembangan produk hingga tahap pra-kelayakan dan sertifikasi. Ia menambahkan, pengawasan mutu dan keamanan pangan harus menjadi bagian integral dari proses inovasi, agar setiap produk yang dihasilkan memenuhi standar nasional dan dapat dipasarkan secara luas.
“BBPOM di Kupang siap menjadi mitra strategis dalam memastikan setiap produk inovasi lokal aman dikonsumsi dan memiliki izin edar yang sah. Dengan begitu, hasil riset para dosen tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Kegiatan FGD ini disambut antusias oleh peserta yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, peneliti, dan pelaku UMKM. Mereka menilai bahwa dukungan BBPOM sangat penting dalam membuka jalan bagi lahirnya produk-produk inovatif lokal yang memiliki daya saing nasional.
FGD juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain perlunya pendampingan teknis dari BBPOM dalam proses uji mutu dan keamanan pangan, penyusunan dokumen legalitas produk, serta kemitraan dengan pelaku industri lokal untuk produksi skala besar.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Politani Kupang BBPOM di Kupang dan Universitas Hasanuddin diharapkan dapat melanjutkan kolaborasi riset dan hilirisasi pangan lokal secara berkelanjutan. Upaya ini tidak hanya mendukung program OVOP Provinsi NTT, tetapi juga memperkuat posisi daerah sebagai penggerak inovasi berbasis sumber daya lokal.
“Inovasi pangan lokal seperti Jabinkasabe adalah contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya daerah dapat bersatu untuk menghasilkan solusi bagi masalah gizi dan ekonomi masyarakat,” tutup Yoseph dengan optimisme.
Dengan semangat kolaboratif tersebut, hilirisasi riset di bidang pangan diharapkan menjadi tonggak bagi kemajuan industri berbasis potensi lokal, sekaligus wujud nyata peran perguruan tinggi dan lembaga pemerintah dalam membangun NTT yang sehat, inovatif, dan berdaya saing.
Balai Besar POM di Kupang