Dobrak Stunting Digaungkan di Noelbaki, BBPOM Kupang Edukasi Orang Tua Anak Stunting soal Keamanan Pangan

18-12-2025 Kupang Dilihat 247 kali

Naibonat - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Kupang terus memperkuat perannya dalam percepatan penurunan stunting melalui inovasi “Dobrak Stunting” (Dongkrak Bersama Turunkan Stunting). Salah satu implementasi inovasi ini diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Keamanan Pangan bagi orang tua yang memiliki anak stunting, yang dilaksanakan pada Selasa (17/12/2025), di Aula Kantor Lurah Naibonat, Kabupaten Kupang.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Desa Pangan Aman Tahun 2025 sekaligus dukungan konkret terhadap implementasi inovasi Dobrak Stunting yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor, edukasi keamanan pangan keluarga, serta intervensi gizi berbasis komunitas.

 

Sosialisasi dibuka oleh Sekretaris Lurah Noelbaki, Tirsa Y. Bureni, yang menyampaikan apresiasi atas dukungan BBPOM di Kupang dan para pemangku kepentingan. “Permasalahan stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Kegiatan hari ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat penting untuk melindungi generasi masa depan,” ujar Tirsa Y. Bureni.

 

Arahan pembukaan Kepala BBPOM di Kupang disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Maria Meliana Wati Parera, yang mengapresiasi komitmen Kelurahan Noelbaki dalam pelaksanaan Program Desa Pangan Aman. “Kami mengapresiasi Kelurahan Noelbaki yang telah menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan desa pangan aman. Keberhasilan ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam mendukung inovasi Dobrak Stunting, karena pangan yang aman adalah prasyarat utama untuk tumbuh kembang anak yang optimal,” kata Maria Meliana Wati Parera.

 

“Upaya menurunkan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat,” lanjut Wati.

 

Materi utama disampaikan oleh Yoseph Nahak Klau, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya BBPOM di Kupang, yang menekankan penerapan lima kunci keamanan pangan keluarga sebagai langkah preventif untuk melindungi anak dari risiko penyakit akibat pangan tidak aman yang dapat memperburuk status gizi. “Keamanan pangan dimulai dari rumah. Lima kunci keamanan pangan keluarga harus dipahami dan diterapkan secara konsisten agar anak-anak, khususnya yang mengalami stunting, tidak terpapar bahaya pangan yang dapat memperburuk kondisi kesehatannya,” jelas Yoseph.

 

Yoseph menambahkan bahwa keamanan pangan memiliki keterkaitan langsung dengan status gizi anak. Pangan yang tercemar atau diolah tidak higienis dapat menyebabkan infeksi berulang yang berdampak pada penyerapan gizi dan pertumbuhan anak.

 

Materi selanjutnya disampaikan oleh Erin D. S. Sukka, Penyuluh Keluarga Berencana Kecamatan Kupang Timur, yang mengulas pentingnya pola asuh dan stimulasi tumbuh kembang anak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pencegahan stunting. “Stunting tidak hanya soal asupan makanan, tetapi juga bagaimana orang tua mengasuh dan mendampingi anak dalam masa tumbuh kembangnya,” ungkap Erin.

 

Sebagai bentuk intervensi nyata, BBPOM di Kupang menyerahkan bantuan telur dan susu kepada 10 anak stunting di Kelurahan Noelbaki. Bantuan ini akan diberikan setiap hari selama satu bulan melalui posyandu setempat, disertai pemantauan dan evaluasi status gizi oleh kader posyandu.

 

Menariknya, bantuan tersebut berasal dari skema orang tua asuh yang merupakan pegawai BBPOM di Kupang, sebagai wujud kepedulian dan partisipasi aktif dalam penurunan stunting di tingkat komunitas.

 

Melalui kegiatan ini, BBPOM di Kupang berharap inovasi Dobrak Stunting mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat, meningkatkan pemahaman keamanan pangan dan pola asuh, serta memberikan dampak nyata bagi perbaikan status gizi anak di Kelurahan Noelbaki dan wilayah lainnya di Nusa Tenggara Timur. 

 

Balai Besar POM di Kupang

Sarana