Melalui Deputi Bidang SDM dan kebudayaan Bapenas (Dra. Nina Sardjunaria. MA), melakukan pertemuan pembahasan dengan SKPD di Provinsi di NTT. Dengan tujuan dapat mensukseskan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Dalam Rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan. Acara di awali dengan arahan dari Kepala Bapeda Prov NTT (Ir. Wayan Darmawa. MT.) disampaikan dalam melaksanakan tugas pemerintah Prov NTT memberikan kebijakan strategi berbasis desa/kelurahan sehingga percepatan perbaikan gizi yang harus dikerjakan di desa/kelurahan dapat dilaksanakan bersinergi. Deputi I SDM dan Kebudayaan menyampaikan beberapa informasi terkait program tersebut di tekankan bahwa pokja di prov NTT di buat hampir sama dengan struktur pokja di pusat dan dibuat SK gubernur. Pelaksanaan kegiatan harus berkoordinasi antar SKPD terkait seperti bidang pertanian, kesehatan, badan pemberdayaan masyarakat desa, pendidikan dll.
Dihadirkan 3 narasumber, yang pertama Prof. Abdul Razak Thaha dari Universitas Hasanuddin Makasar. Menyampaikan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan. Seribu hari pertama kehidupan dimulai dari janin didalam kandungan hingga seorang anak berusia 2 tahun merupakan masa terpenting dan perlu mendapat perhatian terbesar. Anak yang tidak mendapat asupan gizi yang memadai dalam jangka waktu ini dapat menderita kerusakan tetap dan tidak dapat diperbaiki kembali pada saat dewasa. Prevalensi gizi kurang dan stanting (pendek) terjadi bila 1000 HPK bayi dan ibu tidak diperhatikan. Masalah berikut di Indonesia terjadi kelebihan berat badan pada anak dan orang dewasa. Masalah ganda di masyarakat yaitu gizi kurang dan kelebihan gizi secara bersamaan pada suatu masyarakat, telah meningkatkan terjadinya berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, stoke dan penyakit jantung.
Materi ke dua di sampaikan Prof. Saputra tentang Fortifikasi Dalam Penanggulangan Stanting Di Indonesia. Stanting disebabkan karena kekurangan gizi kronik. Terdapat 7 juta anak stanting di Indonesia, anak-anak ini akan rentan terhadap penyakit metabolisme. Dikatakan bahwa ada kelaparan tidak kentara/kelihatan yaitu anak dalam kandungan yang mengalami kekurangan protein, karbohidrat dan mineral. Tindakan yang harus dilakuan segera oleh pemerintah untuk menolong masyarakat yang tidak dapat mengkonsumsi makanan dengan nilai gizi berimbang adalah dengan melakukan fortifikasi zat efektif pada pangan. Fortifikasi yang telah dilakukan adalah zat yodium pada garam, zat mineral Fe, Zn, vitamin B1, B2 dan asam folat yang di fortifikasi pada tepung terigu, vitamin A pada minyak goreng. Fortifikasi dilakukan sukarela dan wajib oleh produsen. Wajib apabila telah diinstruksikan oleh pemerintah untuk produk tertentu. Dalam rencana akan melakukan fortifikasi pada beras raskin. Kekurangan zat gizi dapat menyebabkan gangguan sistem imunisasi, kematian bayi, kekurangan gizi. Narasumber ke tiga adalah Prof. Saputra tentang Praktek Untuk Masalah Anak Pendek dari MCC yang berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan (Dr. Sumarno).
Dalam Buku Pedoman Program Badan POM bertanggungjawab pada ketahanan pangan dan gizi dimana mutu produk harus dijaga aman, bermutu dan bergizi.
Kegiatan dilakukan di Hotel Swiss Bellin Kristal Kupang mulai jam 17.00 sd 21.00 WITA. Dihadiri oleh SKPD terkait dan kepala Balai POM di Kupang (Ruth Diana Laiskodat).
Balai POM di Kupang