Kawal Pasar Intervensi 2022, Balai POM di Kupang Laksanakan Bimbingan Teknis Petugas Pasar Weekarou

23-08-2024 Kupang Dilihat 181 kali

Waikabubak - Rabu (21/8/2024), bertempat di Kantor Pasar Weekarou, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Balai POM di Kupang melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) petugas pengelola pasar yang diikuti 11 orang petugas pengelola pasar/bagian yang membawahi pasar. Bimtek ini dilakukan sebagai keberlanjutan program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas (PPABK).

Dalam sambutannya, Etni Ira Risva Banunu, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya, menyampaikan ”Badan POM mempunyai Program Prioritas Nasional yaitu Desa Pangan Aman, Sekolah dengan Pangan Jajanan Anak Sekolah Aman, dan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas. Program ini sudah dilaksanakan tahun 2022 di Kabupaten Sumba Barat. Sebagai keberlanjutan program tersebut, hari ini kami melaksanakan pengawalan, khususnya pasar. Masyarakat kita sering membeli pangan di pasar, sayangnya di pasar masih ditemukan bahan berbahaya yang dijual seperti boraks dan formalin. Untuk itu, mari hari ini kita sama – sama refresh bagaimana cara menggunakan rapid test kit, cara sampling dan pengujiannya,” himbau Etni. 

Lebih lanjut, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumba Barat, Viktor Umbu Sulung, membuka kegiatan bimtek.  ”Terima kasih BPOM Kupang kembali hadir hari ini. Mari Bapak Ibu yang hadir dapat mengikuti kegiatan ini dengan serius hingga akhir nanti. Sebagai informasi, hari ini peserta yang hadir baru semua, orang – orang baru di pasar. Jadi informasi ini sangat bermanfaat untuk kami. Semoga tahun depan permintaan kami untuk pengadaan rapid test kit dapat disetujui, sehingga kami bisa maksimal melakukan pengawasan di pasar,” ujar Viktor.

Materi terkait pasar pangan aman, pengambilan contoh, praktek uji cepat rapid test kit 4 bahan berbahaya (rhodamin b, formalin, boraks, dan methanyl yellow) dan Cek KLIK disampaikan oleh Etni. ”Bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pangan efeknya sangat besar untuk kesehatan. Misalnya saja formalin. Formalin biasanya digunakan untuk mengawetkan mayat, tapi ditambahkan dalam ikan agar ikan tahan lama, padahal produk ikan segar akan tahan lama jika suhunya kita jaga, bukan dengan menambahkan formalin,” tegas Etni.

Setelah semua materi disampaikan, dibuka ruang diskusi. Diskusi semakin menarik ketika peserta menanyakan terkait anggaran rapid test kit, pewarna makanan, dan tindak lanjut jika menemukan bahan berbahaya di pasar.

Sebagai penutup, Etni menegaskan ”Semoga kegiatan ini bermanfaat dan usulan pengadaan rapid test kit dapat disetujui sehingga Bapak Ibu semua selaku pengelola pasar maksimal melakukan pengawasan di pasar dengan menjamin pangan yang dijual tetap aman.”

Balai POM di Kupang

Sarana